Showing posts with label yanwardi. Show all posts
Showing posts with label yanwardi. Show all posts

Sunday, September 11, 2016

Pemurtadan di Minangkabau (bag.5)

Yanwardi (Eks Minangkabau)
Kiri: Yanwardi (Eks Minangkabau)
Jika bercakap perihal pemurtadan atau kristenisasi maka sebagian besar dari kita akan terkenang akan satu sosok yang bernama Yanwardi. Dia adalah seorang Mantan Minangkabau yang berasal dari Lubuak Basuang Kabupaten Agam, dahulunya bersukukan Koto. Dia memiliki seorang nenek yang telah hajah yakni Oemi Kalsum dan ibunya bernama Saumil Warsih, kedua-duanya telah almarhum. Dalam keseharian dia menyematkan nama sukunya di belakang namanya sehingga menjadi Yanwardi Koto. Anak-anaknyapun diberi nama belakang yang sama yakni Koto pula. Anak-anaknya tersebut ialah Zedi Koto dan Zecha Koto, sedangkan isterinya bernama Yanthie Gouw seorang perempuan dari Manado Sulawesi Utara.
Pendeta Yanwardi
Pendeta Yanwardi
Sebenarnya terdapat sekitar 30-an orang pendeta Nasrani yang dahulunya ialah orang Minangkabau. Namun yang berhasil kami dapatkan nama-namanya hanyalah empat orang saja yakni:
1. AKMAL SANI, asal Koto Baru Pangkalan, Kabupaten Limo Puluah Koto.
Dia  merupakan tokoh dibalik INJIL Berbahasa Minang. Pendiri dan Ketua PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat (PKSB).

Saturday, December 14, 2013

Pemurtadan di Minangkabau

 Bagian.1
Sumber Gambar: http://musyafucino.wordpress.com/tag/kristenisasi/Sumber Gambar: http://musyafucino.wordpress.com/tag/kristenisasi/
Kabar perihal pemurtadan (Kristenisasi) yang berlaku di Minangkabau sesungguhnya telah lama terdengar. Namun kebanyakan orang Minangkabau menganggapnya sebagai angin lalu saja, tak hendak memberi perhatian. Kami tak hendak mencemooh orang-orang yang melalaikan kabar ini namun kami mencoba untuk memahami berbagai keadaan orang-orang zaman sekarang. Ada yang terlalu berat beban hidupnya, sehingga untuk memikirkan nasib diri dan keluarga saja sudah tak tanggung susahnya apatah ini memikirkan nasib orang se Alam Minangkabau ini.

Ada pula yang terlalu sibuk dengan terlena dengan pekerjaan atau urusan pribadi sehingga terlupakan akan bahaya sedang menuju ke hadapan Minangkabau. Atau mungkin ada yang telah pasrah saja karena melihat keadaan peri kehidupan orang Minangkabau masa sekarang yang semakin jauh dari agama dan adat. Menegur kamanakan di rumah saja sudah tak bisa apatah ini orang se Alam Minangkabau.

Namun yang terparah ialah orang-orang yang telah jauh dari tuntunan agama dan adat. Merasa diri paling pandai dari sekalian orang Minangkabau ini sehingga cenderung merendahkan saudara sebangsanya. Berfahamkan kebebasan (liberal), tak hendak memikirkan orang banyak “fikirkan saja diri sendiri, untuk apa engku memikirkan orang lain..!!” kata mereka.

Orang-orang serupa ini tak hendak menghiraukan orang lain “Selama orang lain mengerjakan perkara-perkara yang tidak merugikan saya maka tak ada perlunya saya mencampurinya..!!” jawab mereka.

“Agama itu urusan pribadi, tak usah dicampur adukkan dengan ekonomi, politik, pemerintahan, dan kehidupan umum lainnya. Agama itu antara saya dengan Tuhan, engkau tak perlu turut campur perkara saya beragama..!!” kata mereka lagi.

Na’uzubillah..

Semenjak usaha investasi yang hendak dilakukan oleh LIPPO Grup dengan Siloamnya menyeruak di Propinsi Sumatera Barat maka dengan segera mengemuka kembali kabar pemurtadan atau pengkafiran ini kepermukaan. Namun yang membuat kami tak habis fikir ialah rupanya banyak jua orang-orang yang mengaku Minangkabau mendukung kedatangan LIPPO Grup dengan Siloamnya di Kota Padang.

Mereka ialah orang-orang yang menganggap rendah, picik, dan fanatik para penentang Siloam. Bagi mereka, mereka ialah golongan yang tercerahkan[1] . Telah moderen dan luas pergaulan hidupnya, telah lebih maju dan tercerahkan pola fikir mereka. Namun benarkah demikian?

Itu semua masih dapat diperdebatkan duhai engku dan encik sekalian. Sebab konsep mengenai kemajuan itu sendiri mereka tak faham. Hanya membeo tatkala guru[2] mereka bercakap kemajuan dan mereka terima begitu saja karena sangat kagumnya dengan pendirian dan pemikiran sang guru. Bukankah orang yang demikian itulah yang fanatik duhai engku dan encik sekalian?

Sekarang marilah kita kembali ke kabar Kristenisasi, kita ajukan pertanyaan pokok “Benarkah ada Kristenisasi di Sumatera Barat?”

Jawabnya ialah “Ada..”

Kemudian ditanya lagi “Mana buktinya..!?”

Orang yang mengajukan pertanyaan serupa ini biasanya telah habis akalnya serta telah naik darahnya (emosi). Akan kami coba menerangkan kepada engku dan encik sekalian.

Kasus pertama yang berhasil kami ketahui ialah perihal Adik dari Haji Agus Salim yang bernama Abdoel Chalid Salim yang mulanya Islam kemudian menjadi Komunis dan akhirnya menjadi Penginjil. Dia berganti nama menjadi Ignatius Franciscus Michael Salim(sering disingkat: I.F.M. Salim).[3]

http://suara01.wordpress.com/2011/10/25/anak-sd-dimurtadkan-dengan-modus-mobil-pintar/http://suara01.wordpress.com/2011/10/25/anak-sd-dimurtadkan-dengan-modus-mobil-pintar/
Mungkin engku dan encik akan mencemooh kami “Itu bukan Kristenisasi namanya, bukankah murtadin yang satu ini memeluk Kristen tatkala melarikan diri di Eropa!?”

Memang benar demikian engku dan encik sekalian. Namun setidaknya inilah pembuka jalan, pada masa sekarang mungkin belum basirobok (bersua) benang merahnya oleh kita. Sekarang marilah kita lanjut pada yang kedua yakni seorang yang bernama Abdul Wadud Karim Amrullah (AWKA), seorang Minangkabau yang menjadi pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Dia merupakan adik seayah dari Buya Hamka, engku dan encik tentunya terkejut mendengar hal ini.
Orang ini juga dikenal dengan nama Pendeta Willy Amrul dan terlibat dengan kasus Wawah pada tahun 2001 yang lalu. Kalau dilihat dari kisah hidupnya tampaknya ia berusaha menutup-nutupi penyebab murtadnya dari Islam. Sekali lagi metode pernikahan, isteri, dan anak sangat mematikan sekali jika digunakan untuk mengkafirkan seorang muslim. Kepada engku dan encik sekalian berhati-hatilah memilih pasangan, jangan karena mereka mau bertukar agama hanya untuk menikah dengan kita lalu kita langsung menyambutnya. Siapa tahu itu hanyalah tipuan licik mereka.[4]

Kemudian kasus Wawah yang sangat menyedihkan dimana siswi salah satu MAN di Kota Padang ini diculik, diperkosa, dan dibabtis oleh sekelompok penginjil di Kota Padang. Kami harap engku dan encik jangan pernah melupakan kasus ini karena kasus inilah yang menghantarkan kita kepada Yanwardi Koto nantinya.

“Hah.. Cuma segitukah bualan engkau di blog ini..!” cemooh engku kepada kami.