Showing posts with label Minangkabau. Show all posts
Showing posts with label Minangkabau. Show all posts

Sunday, September 11, 2016

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.12 - Penghabisan)

528087_322940984433553_1963850979_n
Gambar: Internet
Sesungguhnya, berbagai kasus pemurtadan yang menimpa Alam Minangkabau ini telah lama berlangsung semenjak dari kedatangan orang Eropa ke Negeri kita. Dimulai dengan para gundik asal Minangkabau yang memiliki anak dari orang kafir (Eropa & Cina) menjadi korban pertama.
Banyak penyebab seorang Minangkabau akhirnya berkeputusan untuk murtad. Diantara penyebab itu ialah:

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.11)

Trauma Masa Kecil Menjadi Penghantar Menuju Jalan Murtad
David Stephen Sjarifoeddin (1920-2007)
David Stephen Sjafiroeddin (1920-2007)
Banyak murtadin yang dahulunya semasa masih menjadi seorang muslim ialah orang Minangkabau. Namun kemudian mengganti akidah menjadi seorang Nasrani. Terdapat pula beberapa orang diantara mereka yang menjadi Pendeta Agama Nasrani dan berusaha untuk Mengkristenkan Minangkabau. Telah banyak usaha mereka yang terungkap namun diabaikan oleh sebagian besar orang Minangkabau. Bahkan ada yang mengolok-olok “Pemurtadan di Minangkabau?! Mana mungkin..?”
Selain Pendeta Willy Amrullah asal Maninjau dan Yanwardi seorang lelaki yang dahulunya bersukukan Koto dari Kaum Datuak Katumangguangan di Lubuak Basuang. Masih terdapat beberapa orang Pendeta Agama Nasrani yang lain, diantaranya yang berhasil kami ketahui ialah seorang lelaki tua yang bernama David Stephen Sjafiroeddin (DSS). Orang ini dilahirkan pada tahun tanggal 5 bulan Juli tahun 1920 dan meninggal pada tanggal 2 bulan September tahun 2007.
Dia telah lama menetap di Amerika tepatnya di Kota Las Vegas di Nevada Amerika Serikat. Sebuah kota yang dikenal sebagai syurganya judi dan prostitusi. Entah bagaimana hingga nasib membawa DSS ke Nevada.
DSS tergabung dalam Gereja Indonesia Pantecostal Revival Felloship yang didirikan pada tahun 1921 yang semasa Penjajahan Belanda bernama Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie[1]Dimana gereja ini juga memiliki cabang di Kota Padang dengan nama GPdI Jemaat Eben-Haezer yang dipimpin oleh Pdt. H.R. Pandeiroth.
Alangkah baiknya kita tengok sejarah hidup yang dituturkannya sendiri dalam buku yang dikarangnya. Buku tersebut ialah “Which Way Lord?; The True Story of a Minankabau Christian”. Buku ini selain mengisahkan perjalanan hidupnya hingga murtad menjadi Nasrani. Juga digambarkannya sendiri mengenai tanggapan, tafsiran, atau pemahaman peribadinya atas ajaran Islam. Perbandingan yang dilakukannya sendiri terhadap Al Qur’an dan Injil. Dimana semuanya itu dilakukan di tengah kondisi kejiwaan (psikologi) dan kehidupan pribadinya yang sulit. Dia tinggal dengan ayah dan ibu tirinya di Bandung, ibu tirinya tak menyukai dirinya sedangkan ayahnya ialah seorang Playboy yang bekerja pada salah satu klub malam di kota tersebut.
Akhirnya sang ayah menceraikan ibu tirinya dan kawin lagi dengan salah seorang perempuan dari klub malam tersebut. Adapun dengan kakeknya yang tinggal dengan isteri mudanya di Kota Padang tak jauh beda. Serupa ayah dengan anak, maka begitu pula dengan kakeknya yang dahulu juga menceraikan neneknya.
Kakeknya memanfaatkan kelemahan adat Minangkabau dan beberapa dalil dalam Al Qur’an untuk membenarkan perbuatan yang dilakukannya. Dan sayangnya Sjafiroeddin muda yang tak mendapat pendidikan agama yang cukup di kampungnya menerima begitu saja. Sehingga secara perlahan kebenciannya terhadap Islam dan Hukum Islam mulai lahir.
Buku Penghujatan Terhadap Islam yang Dikarang oleh David Stephen Sjafiroeddin
Buku Penghujatan Terhadap Islam yang Dikarang oleh David Stephen Sjafiroeddin
Sjafiroeddin dilahirkan pada tahun 1920 dari keluarga Minangkabau, berasal dari latar belakang keluarga yang broken home. Ibunya diceraikan sang ayah tatkala ibunya baru melahirkan adik perempuan untuknya. Ketika itu usianya baru 2 tahun. DSS masih memiliki hubungan keluarga dengan ayah salah seorang ulama terkenal dari Sumatera Barat yang merupakan keponakan dari kakeknya (kemungkinan kakek dari fihak ibu).
Menurut kisah yang dituliskannya dalam bukunya yang berjudul “Which Way Lord?; The True Story of a Minankabau Christian” dimana dia mengutip dan menafsirkan secara bebas beberapa surat dalam Al Qur’an yang membahas perkara talak, hubungan suami isteri, hak dan kewajiiban laki-laki dan perempuan, pernikahan, dan lain sebagainya.
Kejadian yang menimpa ibunya sangatlah membekas dalam dirinya menjadi “Trauma Masa Kecil” yang kelak sangat berpengaruh dalam menentukan jalan hidupnya.
Layaknya anak-anak seusianya, tatakala masih kanak-kanak dia disuruh mengaji ke surau. Namun dia akhirnya tak lagi datang mengaji setelah kena rotan oleh guru mengaji. DSS dirotan karena ketahuan bermain-main tatkala sang guru sedang mendemonstrasikan “mengaji irama”.
Keputusannya untuk tidak lagi mengaji ke surau melainkan mencukupkan pendidikannya hanya pada sekolah sekuler Belanda saja tidak mendapat penentangan dari keluarganya. Hal ini akan berakibat pada pembentukan karakternya ketika dewasa kelak.
Menurut cerita yang dikisahkannya dia juga pernah mendapat pendidikan di salah satu sekolah agama yang didirikan oleh salah seorang tokoh pembaharu Islam di Sumatera Barat pada awal abad 20. Namun sayang, dalam penyampaian kisahnya DSS tidak objektif sebab dia (berusaha memprovokasi) lebih menyoroti beberapa ayat dalam Al Qur’an yang telah dipelintirnya guna diolok-olok secara Logika.
Kemudian setelah itu dia tinggal dengan ayahnya di Bandung. Disinilah dia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perlakuan dari sang ayah, perlakuan dari ibu tiri, pengakuan dari kakeknya di Padang seputar perceraian ayah dan ibunya, perjumpaan dengan salah seorang kakeknya (paman dari ayahnya) yang telah murtad dan perjumpaan dengan pendeta Nasrani dan isterinya.[2] Kakeknya tersebut (paman dari ayahnya)[3] biasa dipanggilnya dengan panggilan Om, bernamakan Aminoellah van Deik, menikah dengan seorang perempuan Indo-Belanda. Van Deik merupakan anggota dari Gereja Pantekosta.
Lambang Gereja Pantekosta di Indonesia
Lambang Gereja Pantekosta di Indonesia
Karena kebenciannya kepada sang ayah, dia masih menganggap bahwa ayah dan kakeknya merupakan personifikasi dari Ajaran Islam. Ditambah dengan kurangnya pendidikan agama yang didapatnya membuat dia semakin mudah menerima Nasrani sebagai agama baru dan Yesus sebagai tuhan. Setelah berdebat dengan Om-nya yang semenjak awal pertemuan berusaha memurtadkan DSS. Ditambah lagi dia melakukan perbandingan sendiri atas Injil dan Qur’an.[4]
Akhirnya dia memutuskan untuk murtad. Dalam bukunya dia menceritakan bahwa dia mengalami pengalaman spiritual sebelum dibabtis oleh pendeta. Dan keesokan harinya, dia sendiri yang meminta untuk dibabtis kepada Sang Pendeta. Sungguh suatu cerita yang memukau,,
Salah satu bukti kekurang fahaman DSS terhadap Islam yakni tatkala mengatakan bahwa Ali ialah merupakan “anak angkat” Nabi Muhammad yang kemudian menjadi menantu nabi yang dinikahkan dengan anak perempuannya Fatimah. DSS menyebutkan kalau Ali ialah orang yang berperan dalam pembentukan Sekte Syi’ah sedangkan Aisyah isteri nabi memainkan peranan dalam pembentukan Sekte Sunni.[5]
Itulah David Stephen Sjafiroeddin, dia juga membentuk sebuah yayasan yang bertujuan untuk menampung dan memberikan dukungan terhadap para murtadin asal Sumatera (Minangkabau) dengan cara mengumpulkan dana melalui website yang diasuh olehnya.[6] Salmoon Ongirwalu dan Yanwardi dua orang tokoh utama dalam kasus Wawah pada tahun 1999 mendapat dukungan penuh dari Yayasan CROSS yang didirikannya.
Indonesian Pantecostal Revival Fellowship (IPRF) Las Vegas
Indonesian Pantecostal Revival Fellowship (IPRF) Las Vegas
Di Amerika dia telah memiliki anak dan mungkin cucu. Berdasarkan pencarian kami kami berhasil menemukan beberapa nama yang memiliki hubungan dengannya. Mereka ialah
  1. Aurora Labio Sjafiroeddin yang berusia 65 tahun
  2. Christhoper Jhon Sjafiroeddin yang berusia 47 tahun
  3. Linda F Sjafiroeddin
  4. Lucila T Sjafiroeddin yang berusia 44 tahun
  5. Marcus James Sjafiroeddin yang berusia 43 tahun
  6. Valerie R Sjafiroeddin yang berusia 38 tahun
  7. Matthew J Sjafiroeddin yang berusia 45 tahun
  8. Matt Jason Sjafiroeddin yang berusia 38 tahun
_________________________________
Catatan Kaki:

[2] Dimana pendeta dan isterinya inilah yang menampung dirinya tatkala memutuskan keluar dari rumah ayahnya di Bandung. Tatkala ayahnya mengetahui seputar kelakuannya yang telah dengan beraninya membaca Injil dan membandingkannya dengan Al Qur’an tanpa adanya bimbingan dari seorang Ustadz (ulama).
[3] Dalam bukunya berjudul “Which Way Lord?; The True Story of a Minankabau Christian” dia menyebutnya “Paman” bukan “Kakek” karena dia menggunakan panggilan “Om” dalam Bahasa Belanda yang berarti “Paman” kepada kakeknya tersebut.
[4] Dengan latar belakang pendidikan agama yang sangat minim, psikologis, serta ketiadaan bimbingan dari seorang ulama yang telah faham dengan Ilmu Keislaman. Perbandingan sendiri yang dilakukannya, kesimpulan yang didapatnya dari perbandingan dua kitab suci, serta pendapat-pendapat yang diutarakannya mengenai kedua kitab suci tersebut menggambarkan rendahnya serta tingginya sentimen keagamaan yang dimilikinya. Sebagai seorang anak yang “Masa Kecilnya Telah Dirampas” dia menjadikan Islam dan Hukum Islam sebagai “Tersangka Utama” dari kehancuran kehidupan ibu, dirinya, serta keluarganya.
[5] Syi’ah dibentuk oleh Abdullah bin Saba’ yang merupakan seorang Rabi Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Dia bertanggung jawab atas kematian Khalifah Usman. Dia juga yang membuat dan menyebarkan mitos tentang Ali setelah kematiannya. Dan akhirnya terbentuklah Syi’ah selepas kematian Sayyidina Ali.
[6] Silahkan dikunjungi http://whichwaylord.com/who%20we%20are.htm {link tersebut sudah dihapus}

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.10)

Yanwardi sedang memberi Khotbah dengan Pakaian Penghulu.
Yanwardi sedang memberi Khotbah dengan Pakaian Penghulu.
Beragam pendapat dari orang Minangkabau sendiri perihal berbagai kasus murtadnya orang Minangkabau. Dimana setelah murtadnya, dia dan kawan-kawan menggunakan simbol-simbol budaya Minangkabau dalam berbagai ritual agama atau hal-hal yang berkaitan dengan agama baru mereka.
Salah satu pendapat berpandangan bahwa  sebaiknya orang Minangkabau segera menjelaskan dan menetapkan hitam di atas putih mengenai berbagai simbol-simbol budaya Minangkabau yang telah disalah gunakan. Hal ini untuk memperkuat posisi kita orang Minangkabau di hadapan hukum apabila hal ini masih terjadi.
Selama belum jelas hitam-di atas putih maka para murtadin ini akan semakin leluasa dan semena-mena atas berbagai simbol budaya Minangkabau. Dalih mereka salah satunya ialah “Apakah orang yang disebut sebagai Orang Minangkabau itu hanya yang beragama Islam saja? Sebab saya berasal dari keturunan Minangkabau tulen, kakek dan nenek saya dari fihak ayah atau ibu serta apabila dirujuk terus ke atas ialah keturunan Minangkabau tulen. Begitu pula saya, 100 & Minangkabau..”

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.9)

Lain Dahulu – Lain Pula Sekarang
Orang-orang fasik nan munafik sesungguhnya ialah sesosok kaum yang penuh akan tipu daya. Segala usaha akan mereka curahkan untuk membawa umat Islam kepada kesesatan. Keberadaan mereka telah lama dalam Dunia Islam, semenjak zaman Nabi kita tatkala membina Negara Islam di Madinah.
Adalah Abdullah bin Ubay, seorang munafiqun yang berasal dari golongan Yahudi di Madinah. Kisah pengkhianatan dan tipu daya yang dilakukan dirinya dan kaumnya terhadap Rasulullah dan Kaum Muslimin menjadi kisah abadi akan bahanyanya kelompok ini. Waktupun silih berganti dan manusia yang menempati zamanpun mulai berubah. Ada yang melupakan, ada yang masih ingat. Ada yang membenci kaum ini, namun tak kurang pulang yang menjadikan panutan. Kecerdikan mereka menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang-orang yang membanci Islam.
Pada masa sekarang, umat Islampun menghadapi bahaya yang serupa. Kaum Munafiqun yang dengan keras hati berkata bahwa mereka ialah Seorang Muslim berusaha memecah belah umat Islam. Tak urung, beberapa tokoh-tokoh penting dalam Peradaban Islam mereka jadikan kambing hitam untuk membenarkan gerakan mereka.

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.8)

Pada tulisan yang lalu kami telah mencoba menerangkan perihal berbagai upaya dari kaum fasik nan munafik serta kaum kafir dalam menyokong Pemurtadan di Minangkabau ini. Kami sengaja membagi tulisan Bagian.7 ini menjadi dua bagian.
Yanwardi & Afolo tatkala sedang melaksanakan salah satu ritual agama mereka.
Yanwardi & Afolo tatkala sedang melaksanakan salah satu ritual agama mereka.
Gambar: Internet
Pertanyaan lainnya yang menggambarkan betapa kuat keinginannya untuk menggoyahkan Adat & Islam di Minangkabau ialah “Tatkala Islam pertama masuk ke Minangkabau tentulah ketika itu orang Minangkabau belum bergama Islam. Kemudian Islam berkembang di Minangkabau, dan saya yakin bahwa tidak 100% orang Islam menerima dan menganut Islam di Minangkabau. Namun apabila dikatakan mayoritas, mungkin iya. Kecuali ada data-data statistik yang dapat membuktikan pernyataan saya tersebut salah. Dan sekarang Mayoritas tersebut tatkala mendengar yang Minoritas menyatakan diri Bukan Islam malah hendak dikeluarkan yang Minoritas dari Minangkabau. Bukankah itu salah satu bentuk man-den dari Urang Minang mentang-mentang Mayoritas.”
Mengurut dada kami mendengar pendapat orang fasik ini. Sudah begitu besarkah kebenciannya kepada adat dan agama di negeri ini. Atau jangan-jangan dia telah murtad?
Kawan kamipun tatkala kami tanyai pendapatnya mengenai hal inipun menjawab;

Pemurtadan di Minangkabau (bag.7)

Fitanah Para SEPILIS

Gambar: Internet
Yanwardi (berdiri kedua dari kanan) & Isteri (pertama dari kanan) bersama para pengurus GKN)
Sumber: Internet
Pada tulisan kami bagian ke-6 telah kami uraikan perihal tiga kelompok yang ikut memuluskan Jalannya Kristenisasi di Minangkabau ini. Pada tulisan kali ini kami hendak mencoba membahas perihal salah satu kelompok yakni Kelompok SEPILIS. SEPILIS merupakan akronim dari Sekuleris, Pluralis, & Liberalis. Sekularis ialah orang-orang yang berkeinginan memisahkan agama dari kehidupan publik seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Agama menjadi urusan peribadi yang tak boleh dicampuri oleh seorangpun.
“Baik dan salah itu semua berpulang kepata Tuhan, sebab Tuhanlah yang berhak menghukum seseorang..” begitulah pendapat mereka.

Pemurtadan di Minangakabau (Bag.6)

Masjid dengan Arsitektur Minangkabau Sumber: http://manggopohalamsaiyo.blogspot.com/2011/01/adat-basandi-syara-syara-basandi.html
Masjid dengan Arsitektur Minangkabau. Sumber Berpadunya Antara Adat & Syara’
Terdapat beberapa golongan yang ikut membantu mempelancar jalannya kristenisasi (pengkafiran) orang Minangakabau. Pertama ialah kelompok Ateis Minang (termasuk kelompok asuhan Jusfiq Hadjar[1]) yang menggerakkan kelompok ini dari Negeri Belanda. Kemudian ada pula kelompok SEPILIS yang semakin banyak jumlahnya di kalangan anak bujang jo gadih di Minangkabau ini. Yang ketiga ialah kelompok yang bersembunyi dibalik nama Islam. Kelompok ketiga ini mempertentangkan adat dengan agama sembari mengatakan Adat Minangkabau itu jahiliyah dan bertentangan dengan syari’at.
Ketiga kelompok ini sama-sama berusaha menjauhkan orang Minangkabau dari adat dan Islam. Engku dan encik pastilah heran dengan pernyataan kami tersebut “Manapula?! Bukankah kelompok yang ketiga hendak menegakkan syari’at?!” hardik engku dan encik kepada kami.

Pemurtadan di Minangkabau (bag.5)

Yanwardi (Eks Minangkabau)
Kiri: Yanwardi (Eks Minangkabau)
Jika bercakap perihal pemurtadan atau kristenisasi maka sebagian besar dari kita akan terkenang akan satu sosok yang bernama Yanwardi. Dia adalah seorang Mantan Minangkabau yang berasal dari Lubuak Basuang Kabupaten Agam, dahulunya bersukukan Koto. Dia memiliki seorang nenek yang telah hajah yakni Oemi Kalsum dan ibunya bernama Saumil Warsih, kedua-duanya telah almarhum. Dalam keseharian dia menyematkan nama sukunya di belakang namanya sehingga menjadi Yanwardi Koto. Anak-anaknyapun diberi nama belakang yang sama yakni Koto pula. Anak-anaknya tersebut ialah Zedi Koto dan Zecha Koto, sedangkan isterinya bernama Yanthie Gouw seorang perempuan dari Manado Sulawesi Utara.
Pendeta Yanwardi
Pendeta Yanwardi
Sebenarnya terdapat sekitar 30-an orang pendeta Nasrani yang dahulunya ialah orang Minangkabau. Namun yang berhasil kami dapatkan nama-namanya hanyalah empat orang saja yakni:
1. AKMAL SANI, asal Koto Baru Pangkalan, Kabupaten Limo Puluah Koto.
Dia  merupakan tokoh dibalik INJIL Berbahasa Minang. Pendiri dan Ketua PKSB, yaitu: Persekutuan Kristen Sumatera Barat (PKSB).

Pemurtadan di Minangkabau (bag.4)

Yanwardi sedang mengembalakan domba-dombanya. Cobalah engku dan encik tengok pada dinding bagian belakangnya.
Foto: Yanwardi sedang mengembalakan domba-dombanya. Cobalah engku dan encik tengok pada dinding bagian belakangnya.
Telah banyak orang Minangkabau yang bertukar kiblat, dan hampir semua dari murtadin tersebut ialah para perantau yang merantau di luar wilayah Minangkabau. Kalaupun ada yang tinggal di  dalam wilayah Propinsi Sumatera Barat, para MURTADIN itu tidak tinggal di kampung mereka. Kebanyakan kasus pemurtadan ini berlaku ialah karena  mereka menikah dengan orang Nasrani.
Sepatutnya hal ini menjadi bahan pemikiran bagi kita semua orang Minangkabau. Sebab telah banyak pula serangan berupa pernyataan bermaksud menohok kepada sekalian orang Minang “Kalau memang Minangkabau itu identik dengan Islam! Lalu kenapa banyak jua Rumah Makan Padang yang buka pada bulan puasa? Banyak jua orang Padang di rantau yang menjalani pekerjaan “kotor”,  serta banyak pula yang tak shalat..!?”
Kami tersenyum tatkala mendapat pertanyaan “kasar” serupa itu. Kami terkenang dengan ucapan dosen kami semasa kuliah dahulu di kelas kepada salah seorang kawan yang kafir (non muslim). Begini kata dosen tersebut “Angel (nama samaran), itu yang memaling di negara ini kebanyakan ialah orang Islam, yang koruptorpun kebanyakan orang Islam pula, pendek kata yang melakukan tindakan kriminal di negara ini ialah orang Islam..!” kata dosen kami yang mengaku beragama Islam namun berideologi sosialis tersebut.

Saturday, December 14, 2013

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.3)

Sumber Gambar: http://hujananjingkucing.blogspot.com/2012/11/akhir-dari-akhir-sejarah-sebuah-review.htmlSumber Gambar:http://hujananjingkucing.blogspot.com/2012/11/akhir-dari-akhir-sejarah-sebuah-review.html
Pada malapetaka yang menimpa Wawah tahun 1999 yang silam, mencuatkan dua nama yakni Pendeta Yanwardi Koto dan Pendeta Willy Amrull. Keduanya secara keturunan ialah Minangkabau namun mereka telah murtad menjadi seorang Kristen. Yanwardi berasal dari Lubuak Basuang Kabupaten Agam sedang Willy berasal dari Maninjau di Kabupaten Agam. Menarik mengenai Pendeta Willy[1] ini, dia merupakan adik satu ayah dari Buya HAMKA.

Menurut beberapa sumber, telah lebih 30 orang pendeta Kristen berasal dari Bekas Minangakabu,[2] telah pula banyak orang Minangkabau yang keluar dari Islam.[3] Dalam melancarkan misi mereka semakin berani, seperti terang-terangan mendatangi seorang Minangkabau dengan maksud mengajaknya untuk pindah agama.

Namun yang paling berbahaya ialah mereka sengaja memakai simbol-simbol Minangkabau dalam melancarkan aksi mereka. Seperti arsitektur rumah bagonjong, marawa, pakaian adat minang (laki-laki mapun perempuan), bahasa, dan lain sebagainya. Kemudian langkah mereka ini didukung dan dilindungi oleh kaum LIBERAL Minangkabau. Kaum Liberal melindungi mereka dengan menyerang Logika berfikir kita "Apakah antara adat & islam itu sama? Apakah bahasa Minang itu ialah bahasa yang boleh dipakai oleh orang Minang Islam saja? Cina di Pondok banyak bahkan lebih fasih berbahasa Minang dibanding kan orang Minang sekarang?

Ada Juga SEPILIS yang memakai "Lagu Lama", mengangkat isu Mayoritas VS Minoritas. begini katanya " Yg sekian persen (saketek non-islam) ketika kini mereka menyatakan dirinya non-islam, lalu kok mayoritas mengeluarkan dia dari Minang? bukankah ini bantuk 'man den' dari urang Minang, mantang2 inyo mayoritas??" Islam mengajarkan manjago kerukunan, bukan kekacauan apolai dalam bantuak man den tahado urang lemah..."

Hm.. tertawa terpingkal-pingkal kami mendengarnya. Tahulah kami kalau SEPILIS yang satu ini sangatlah radikal. Mengatakan orang berjanggut saja yang Fanatik dan Radikal.

Engku dan encik sekalian, banyak orang sekarang yang kurang ajar tak baraso. Ketika datang ke kampung orang "ka gadang-gadangan".  Adat-resam dalam kampung tersebut tak hendak mereka hormati dan hargai. Mereka kata kalau orang kampung tersebut terlalu kolot, sekarang zaman kemajuan, segala adat-resam yang berlaku dalam masyarakat mereka itu menghambat kemajuan karena tidak efektif dan efisien. Sebab banyak membuang waktu, zaman sekarang orang sangatlah sibuk. Payah mencari waktu luang pada masa sekarang, jadi segala adat-resam tersebut mesti di tukar.
http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/69950/ranah-minang-ditengah-cengkeraman-kristenisasi.htmlhttp://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/69950/ranah-minang-ditengah-cengkeraman-kristenisasi.html
Lalu orang kampung marah, mengusir Sumando Kacang Miang tersebut dari kampung mereka. Kamanakan merekapun dituntut untuk menceraikan suaminya atau pergi menghilang dari kampung. Tak boleh balik lagi ke kampung, sebab hati orang sekampung sangatlah tersinggung dengan perkataan dan sikap Congkak-Sombong dari Sumando yang katanya INtTELEK tersebut. Kata orang "Tamatan Universitas Negeri Ternama di Pulau Jawa.."

Lalu kemudian si Sumando marah dan menuntut orang kampung karena telah melanggar hak-haknya sebagai warga negara. Sebagai warga negara dia berhak berada dimana saja di wilayah hukum NKRI ini. Ini ialah hak dan kebebasan ia sebagai warga negara. Dia juga menggunakan dalil-dalil agama "Inikan bumi Allah, sebagai seorang muslim saya berhak berada dimana saja di bumi Allah ini..!!"

Karena orang kampung ini lemah, tak kenal dengan pejabat dan "urang bagak" maka terpaksa dibiarkan saja Sumando Kacang Miang ini Marajolelo di dalam kampung. Coba katakan kepada kami duhai engku dan encik sekalian, beginikah yang engku dan encik kehendaki nantinya menimpa Alam Minangkabau ini.

Kita mesti hormat dan toleran kepada orang lain, namun orang lain tak mesti hormat dan toleran kepada kita. Maju Kena-Mundur Kena. Bercakap salah-diampun salah. Dipukul salah-balik memukulpun salah. Kita bercakap tak didengarkan-orang bercakap kita mesti dengar.

Katakan engku dan encik sekalian, hukum siapakah itu? Hukum darimanakah itu? Pantaskah orang yang menganut pendirian serupa ini kita sambut sebagai dunsanak, dihargai sebagai kawan, atau dimuliakan sebagai tamu. Intelektual atau BINGAkah Urang Awak itu namanya.

Metode lain yang mereka gunakan ialah melalui jalan perkawinan dan pacaran. Metode ini hampir merata dipakai oleh para Kristen Radikal ini. berpura-pura masuk Islam, kemudian selepas punya anak kembali ke Kristen. Kalau pasangan tak hendak maka anak-anak akan diambil. Atau menghamili perempuan Minang, kalau hendak dipertanggung-jawabkan maka harus mengikuti agama Lelaki jahanam itu.

Kemudian ada pula dengan cara meracuni fikiran orang Minangkabau dengan Mazhab SEPILIS[4]. Dimana kebebasan individu dijunjung tinggi, agama ialah urusan pribadi dan tak boleh dicampuri oleh orang lain. Agama juga tak boleh dicampur-baurkan dengan urusan duniawi seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Harus saling menghargai perbedaan, apapun pilihan yang diambil seseorang ialah hak asali yang ada padanya. Dan terakhir, perubahan ialah sesuatu yang pasti untuk mencapai kemajuan. Barang siapa yang tak hendak menerima perubahan maka ia akan tersuruk dalam ke bodohan.

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.2)

Sumber Gambar: http://unehunikdananeh.wordpress.com/2010/07/06/mencermati-kelicikan-penginjil-kristen/Sumber Gambar: http://unehunikdananeh.wordpress.com/2010/07/06/mencermati-kelicikan-penginjil-kristen/
Pada tulisan kami yang telah lalu kami bahas secara garis besar perihal pemurtadan (kristenisasi) yang telah lama berlaku di Minangkabau. Sekarang, marilah kita beranjak kepada pembahasan mengenai pemurtadan yang terjadi di Minangkabau ini. berbagai kasus yang terjadi banyak mengemuka di Kota Padang, Pasaman, Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Bagaimana dengan kawasan lainnya di Minangkabau ini? adakah hal yang sama juga berlaku?

Mudah-mudahan saja tidak, sebab cemas kami dikarenakan tidak terdengar kabar menyebabkan kita menjadi lalai mengenai masalah ini. Sebab  Si Penyampai Kabar pada masa sekarang telah banyak dikuasai oleh orang-orang yang mengaku menganut faham “Kebebasan”. Dimana orang bertukar agama bukanlah masalah bagi mereka karena itu merupakan bagian dari HAM. Dan lagi pula menurut pendapat mereka “Agama itu ialah Hak individu, tidak boleh dicampur-baurkan dengan kehidupan bernegara, politik, ekonomi, budaya, sosial, dan kehidupan umum lainnya..” Suatu pendapat yang didasarkan atas Ideologi Liberalisme.

Patut menjadi renungan bagi kita ialah pada masa dahulu – yakni  ketika Gerakan Kaum Muda VS Kaum Tua sedang keras-kerasnya – sekitar tahun 1930-an isu Kristenisasi merebak di Minangkabu. Hal ini rupanya mendatangkan berkah tersendiri dimana kedua golongan yang bertentangan ini. Dimana akhirnya kedua golongan yang semula bertentangan menjadi bersatu-padu dalam menentang usaha pengkafiran ini. Sungguh sangat berlainan keadannya dengan masa sekarang dimana banyak orang Minangakabau yang “mengaku” dan “merasa” terdidik bersikap pongah, congkak, dan angkuh dengan sikap mereka yang merendahkah saudara-saudara mereka yang menentang “Kristenisasi” ini. Karena menganggap kabar tersebut merupakan kabar “dusta”.

Misi Kristen pertama yang berlaku di Sumatera Barat pada masa Penjajahan Belanda, hanya kepada sesama warga Eropa, Nias, Ambon, Batak, Menado, dan Jawa. Ada juga yang mengincar orang-orang Minangkabau yakni orang Minangkabau keturunan (genelogis) yakni beribu Minangkabau sedangkan berayahkan Eropa atau Cina. Biasanya perempuan-perempuan ini merupakan gundik bagi laki-laki kafir tersebut. Namun pada permulaan abad ke-20 misi-misi Kristen mulai dengan serius mengincar orang-orang Cina dan Nias.

Muslihat (modus operandi) yang dijalankan ialah dengan mendekati keluarga-keluarga mereka kemudian membujuk supaya anak-anak mereka di sekolahkan di sekolah-sekolah yang didirikan oleh misi. Muslihat lainnya ialah dengan cara memberikan bantuan berupa pelayanan sosial, perawatan anak-anak, dan orang tua terlantar.

Yang paling mengejutkan ialah antara tahun 1937 hingga kekalahan Jepang, beberapa orang Minangkabau telah berhasil di babtis dan aktif dalam beberapa kegiatan gereja. Namun pada perang kemerdekaan, para murtadin ini kembali menjadi muslim.

Titik paling mengejutkan terjadi semenjak tahun 1950 dimana sekelompok pemuda Minangkabau yang telah murtad dan menganut ajaran Kristen di Singapura mengunjungi Padang dan berhasil menarik beberapa orang pemuda Minangkabau untuk ikut murtad mengikuti jejak mereka. Kristenisasi pada sekitar tahun ini semakin gencar dengan diadakannya program transmigrasi oleh Pemerintah Pusat.

Selain itu kasus Kristenisasi yang berlangsung kebanyakan memiliki pola yang sama yakni selain dari memberikan bantuan pendidikan, sosial, dan kesehatan juga yang paling mengena ialah melalui lembaga perkawinan. Dengan berpura-pura memeluk Islam, seorang Kristen kemudian mengkonvert pasangannya untuk murtad. Kasus ini lebih banyak dialami oleh kaum perempuan.[1]

Pada tahun 1982 Minangkabau dihebohkan dengan organisasi yang menamakan dirinya dengan “Persekuatuan Kristen Sumatera Barat” (PKSB) dan “Persekutuan Kristen Minangkabau”. Organisasi ini menggunakan rumah gadang sebagai lambangnya. Semenjak tahun 1980-an ini Misi Kristen meraih banyak prestasi seperti berhasil mengkafirkan beberapa orang penghulu di Minangkabau. Tidak hanya itu, INJIL Berbahasa Minangpun mulai dirilis serta berbagai gereja dengan bentuk rumah biasa mulai banyak didirikan di Sumatera Barat.

Pemurtadan di Minangkabau

 Bagian.1
Sumber Gambar: http://musyafucino.wordpress.com/tag/kristenisasi/Sumber Gambar: http://musyafucino.wordpress.com/tag/kristenisasi/
Kabar perihal pemurtadan (Kristenisasi) yang berlaku di Minangkabau sesungguhnya telah lama terdengar. Namun kebanyakan orang Minangkabau menganggapnya sebagai angin lalu saja, tak hendak memberi perhatian. Kami tak hendak mencemooh orang-orang yang melalaikan kabar ini namun kami mencoba untuk memahami berbagai keadaan orang-orang zaman sekarang. Ada yang terlalu berat beban hidupnya, sehingga untuk memikirkan nasib diri dan keluarga saja sudah tak tanggung susahnya apatah ini memikirkan nasib orang se Alam Minangkabau ini.

Ada pula yang terlalu sibuk dengan terlena dengan pekerjaan atau urusan pribadi sehingga terlupakan akan bahaya sedang menuju ke hadapan Minangkabau. Atau mungkin ada yang telah pasrah saja karena melihat keadaan peri kehidupan orang Minangkabau masa sekarang yang semakin jauh dari agama dan adat. Menegur kamanakan di rumah saja sudah tak bisa apatah ini orang se Alam Minangkabau.

Namun yang terparah ialah orang-orang yang telah jauh dari tuntunan agama dan adat. Merasa diri paling pandai dari sekalian orang Minangkabau ini sehingga cenderung merendahkan saudara sebangsanya. Berfahamkan kebebasan (liberal), tak hendak memikirkan orang banyak “fikirkan saja diri sendiri, untuk apa engku memikirkan orang lain..!!” kata mereka.

Orang-orang serupa ini tak hendak menghiraukan orang lain “Selama orang lain mengerjakan perkara-perkara yang tidak merugikan saya maka tak ada perlunya saya mencampurinya..!!” jawab mereka.

“Agama itu urusan pribadi, tak usah dicampur adukkan dengan ekonomi, politik, pemerintahan, dan kehidupan umum lainnya. Agama itu antara saya dengan Tuhan, engkau tak perlu turut campur perkara saya beragama..!!” kata mereka lagi.

Na’uzubillah..

Semenjak usaha investasi yang hendak dilakukan oleh LIPPO Grup dengan Siloamnya menyeruak di Propinsi Sumatera Barat maka dengan segera mengemuka kembali kabar pemurtadan atau pengkafiran ini kepermukaan. Namun yang membuat kami tak habis fikir ialah rupanya banyak jua orang-orang yang mengaku Minangkabau mendukung kedatangan LIPPO Grup dengan Siloamnya di Kota Padang.

Mereka ialah orang-orang yang menganggap rendah, picik, dan fanatik para penentang Siloam. Bagi mereka, mereka ialah golongan yang tercerahkan[1] . Telah moderen dan luas pergaulan hidupnya, telah lebih maju dan tercerahkan pola fikir mereka. Namun benarkah demikian?

Itu semua masih dapat diperdebatkan duhai engku dan encik sekalian. Sebab konsep mengenai kemajuan itu sendiri mereka tak faham. Hanya membeo tatkala guru[2] mereka bercakap kemajuan dan mereka terima begitu saja karena sangat kagumnya dengan pendirian dan pemikiran sang guru. Bukankah orang yang demikian itulah yang fanatik duhai engku dan encik sekalian?

Sekarang marilah kita kembali ke kabar Kristenisasi, kita ajukan pertanyaan pokok “Benarkah ada Kristenisasi di Sumatera Barat?”

Jawabnya ialah “Ada..”

Kemudian ditanya lagi “Mana buktinya..!?”

Orang yang mengajukan pertanyaan serupa ini biasanya telah habis akalnya serta telah naik darahnya (emosi). Akan kami coba menerangkan kepada engku dan encik sekalian.

Kasus pertama yang berhasil kami ketahui ialah perihal Adik dari Haji Agus Salim yang bernama Abdoel Chalid Salim yang mulanya Islam kemudian menjadi Komunis dan akhirnya menjadi Penginjil. Dia berganti nama menjadi Ignatius Franciscus Michael Salim(sering disingkat: I.F.M. Salim).[3]

http://suara01.wordpress.com/2011/10/25/anak-sd-dimurtadkan-dengan-modus-mobil-pintar/http://suara01.wordpress.com/2011/10/25/anak-sd-dimurtadkan-dengan-modus-mobil-pintar/
Mungkin engku dan encik akan mencemooh kami “Itu bukan Kristenisasi namanya, bukankah murtadin yang satu ini memeluk Kristen tatkala melarikan diri di Eropa!?”

Memang benar demikian engku dan encik sekalian. Namun setidaknya inilah pembuka jalan, pada masa sekarang mungkin belum basirobok (bersua) benang merahnya oleh kita. Sekarang marilah kita lanjut pada yang kedua yakni seorang yang bernama Abdul Wadud Karim Amrullah (AWKA), seorang Minangkabau yang menjadi pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Dia merupakan adik seayah dari Buya Hamka, engku dan encik tentunya terkejut mendengar hal ini.
Orang ini juga dikenal dengan nama Pendeta Willy Amrul dan terlibat dengan kasus Wawah pada tahun 2001 yang lalu. Kalau dilihat dari kisah hidupnya tampaknya ia berusaha menutup-nutupi penyebab murtadnya dari Islam. Sekali lagi metode pernikahan, isteri, dan anak sangat mematikan sekali jika digunakan untuk mengkafirkan seorang muslim. Kepada engku dan encik sekalian berhati-hatilah memilih pasangan, jangan karena mereka mau bertukar agama hanya untuk menikah dengan kita lalu kita langsung menyambutnya. Siapa tahu itu hanyalah tipuan licik mereka.[4]

Kemudian kasus Wawah yang sangat menyedihkan dimana siswi salah satu MAN di Kota Padang ini diculik, diperkosa, dan dibabtis oleh sekelompok penginjil di Kota Padang. Kami harap engku dan encik jangan pernah melupakan kasus ini karena kasus inilah yang menghantarkan kita kepada Yanwardi Koto nantinya.

“Hah.. Cuma segitukah bualan engkau di blog ini..!” cemooh engku kepada kami.

Thursday, December 12, 2013

Bermental Budak

Gambar: Internet
Gambar: Internet
Bagaimana cara kita bekerja mempengaruhi kesadaran kita, dilain fihak kesadaran kita juga mempengaruhi cara kita bekerja. Kita dapat mengatakan bahwa hal tersebut merupakan suatu hubungan interaktif antara tangan dan kesadaran. Jadi cara kita “berfikir” terkait erat dengan pekerjaan yang kita lakukan. (Pendapat Karl Marx dalam Jostein Gaarder. Dunia Sophie. Mizan. 2010, Bandung. Hal. 613).

Kutipan dari sebuah buku seri filsafat yang diterbitkan oleh Mizan di atas semakin menggukuhkan pendapat kami atas beberapa orang yang begitu membenci dan menghujat salah satu pendapat kami dalam blog ini. Ini bukan sekadar teori belaka melainkan dapat dibuktikan dalam dunia nyata. Bukti-bukti tersebut dapat kita saksikan kalau kita mau sedikit saja menggunakan akal dan perasaan kita. Sebab untuk melihat dan menangkap suatu fenomena sosial dimana hal tersebut merupakan gambaran (refleksi) dari watak dan tingkat intelektual dari manusia-manusia yang kita amati, memerlukan kehalusan budi dan ketajaman fikiran.

Kalau mengikut teori dari Marx maka kehidupan ini merupakan pertarungan antara dua kekuatan yakni: lemah (budak, orang miskin, pekerja, proletar, warga biasa, dsb) melawan kuat (pengusaha, orang kaya, pemimpin, bangsawan, penguasa, dsb). Dimana kepentingan perut atau uang atau modal atau kapital sangat berpengaruh dalam keduanya.

Begitulah cara orang Minangkabau pada masa sekarang (baik yang di rantau maupun yang menetap di Minangkabau) dalam menyikapi segala persoalan yang terjadi. Salah satunya ialah pertikaian (polemik) yang muncul seputar kedatangan salah seorang investor di propinsi ini.

Bagi para pekerja yang merasa bosan karena rendahnya pendapatan dan stagnannya kehidupan di propinsi ini (serta para pencari kerja yang putus asa karena tidak tersedianya lapangan kerja yang sesuai dengan spesifikasi pendidikan mereka) berpandangan bahwa kedatangan investor ini akan membawa angin baru (penyelamat kehidupan mereka). Perubahan yang seignifikan dalam kehidupan mereka seperti tersedianya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan, serta baiknya taraf hidup masyarakat. Pendapat demikian mengemuka karena mereka melandaskan pemikiran mereka pada sisi praktisnya saja, yakni sisi “materi” berupa kemajuan ekonomi.

Kemudian para pemilik modal (pengusaha lokal) ada yang pecah suara mereka, terdapat segolongan yang menerima dan segolongan lain yang menolak. Bagi yang menerima beranggapan hal ini baik bagi perkembangan ekonomi propinsi ini kedepannya. Setidaknya usaha mereka yang telah ada akan semakin berkembang seiring dengan kedatangan investor ini. Dimana meningkatnya jumlah tenaga kerja, meningkatnya penghasilan (sebagian kecil) penduduk, serta naiknya taraf hidup (segolongan elit). Hal ini akan berdampak kepada usaha mereka yang bergerak di bidang lain, dimana mereka memanjakan pola hidup konsumtif segelintir orang berpunya di negeri ini.

Serta alasan lainnya ialah karena mereka tidak sanggup untuk bersaing atau merasa kalah atau dizhalimi oleh salah satu atau beberapa pengusaha lokal yang bermodal kuat dan memiliki jaringan luas. Dengan masuknya investor ini diharapkan dapat mengimbangi (kalau dapat mengalahkan) kekuatan dari pengusaha lokal yang semakin menjadi-jadi ini.

Sedangkan bagi yang menolak mereka beranggapan kedatangan investor ini akan merusak keseimbangan serta memberikan ancaman terhadap keberlangsungan mereka. Hal ini karena investor tersebut datang dengan modal yang jauh lebih besar, jaringan yang jauh lebih luas, serta kekuatan yang jauh melampaui mereka.

Friday, July 19, 2013

Pakaian Perempuan Minangkabau

Perempuan Koto Gadang
Gambar: Internet
Perempuan ialah lambang kehormatan bagi orang Minangkabau, mereka dimuliakan dan dituahkan dengan Rumah Gadang dan harta pusaka. Sedangkan lelaki hanya dituahkan dengan Gelar Pusaka. Namun banyak jua orang Minang yang tak begitu faham dengan adat serta orang luar yang memandang adat Minang ini dengan penuh prasangka dan cemburu. Mereka semua berpendapat berlainan..

Pakaian kemualiaan seorang perempuan Minangkabau ialah Baju Kurung. Pakaian ini sebenarnya tidak hanya dipakai oleh perempuan Minangkabau saja, akan tetapi seluruh perempuan di Alam Melayu menggunakannya. Saat ini, hanya orang-orang Melayu di Malaysia yang masih mempertahankan pakaian ini. Sehingga banyak orang Minangkabau yang tak faham apabila disebut perihal baju kurung maka mereka akan berseru “O baju yang serupa dipakaia oleh orang Malaysia itu..?”

Sungguh sangat kasihan sekali orang Minangkabau, telah lupa dengan jati diri, telah lupa dengan diri sendiri.