Showing posts with label fasik. Show all posts
Showing posts with label fasik. Show all posts

Saturday, December 14, 2013

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.3)

Sumber Gambar: http://hujananjingkucing.blogspot.com/2012/11/akhir-dari-akhir-sejarah-sebuah-review.htmlSumber Gambar:http://hujananjingkucing.blogspot.com/2012/11/akhir-dari-akhir-sejarah-sebuah-review.html
Pada malapetaka yang menimpa Wawah tahun 1999 yang silam, mencuatkan dua nama yakni Pendeta Yanwardi Koto dan Pendeta Willy Amrull. Keduanya secara keturunan ialah Minangkabau namun mereka telah murtad menjadi seorang Kristen. Yanwardi berasal dari Lubuak Basuang Kabupaten Agam sedang Willy berasal dari Maninjau di Kabupaten Agam. Menarik mengenai Pendeta Willy[1] ini, dia merupakan adik satu ayah dari Buya HAMKA.

Menurut beberapa sumber, telah lebih 30 orang pendeta Kristen berasal dari Bekas Minangakabu,[2] telah pula banyak orang Minangkabau yang keluar dari Islam.[3] Dalam melancarkan misi mereka semakin berani, seperti terang-terangan mendatangi seorang Minangkabau dengan maksud mengajaknya untuk pindah agama.

Namun yang paling berbahaya ialah mereka sengaja memakai simbol-simbol Minangkabau dalam melancarkan aksi mereka. Seperti arsitektur rumah bagonjong, marawa, pakaian adat minang (laki-laki mapun perempuan), bahasa, dan lain sebagainya. Kemudian langkah mereka ini didukung dan dilindungi oleh kaum LIBERAL Minangkabau. Kaum Liberal melindungi mereka dengan menyerang Logika berfikir kita "Apakah antara adat & islam itu sama? Apakah bahasa Minang itu ialah bahasa yang boleh dipakai oleh orang Minang Islam saja? Cina di Pondok banyak bahkan lebih fasih berbahasa Minang dibanding kan orang Minang sekarang?

Ada Juga SEPILIS yang memakai "Lagu Lama", mengangkat isu Mayoritas VS Minoritas. begini katanya " Yg sekian persen (saketek non-islam) ketika kini mereka menyatakan dirinya non-islam, lalu kok mayoritas mengeluarkan dia dari Minang? bukankah ini bantuk 'man den' dari urang Minang, mantang2 inyo mayoritas??" Islam mengajarkan manjago kerukunan, bukan kekacauan apolai dalam bantuak man den tahado urang lemah..."

Hm.. tertawa terpingkal-pingkal kami mendengarnya. Tahulah kami kalau SEPILIS yang satu ini sangatlah radikal. Mengatakan orang berjanggut saja yang Fanatik dan Radikal.

Engku dan encik sekalian, banyak orang sekarang yang kurang ajar tak baraso. Ketika datang ke kampung orang "ka gadang-gadangan".  Adat-resam dalam kampung tersebut tak hendak mereka hormati dan hargai. Mereka kata kalau orang kampung tersebut terlalu kolot, sekarang zaman kemajuan, segala adat-resam yang berlaku dalam masyarakat mereka itu menghambat kemajuan karena tidak efektif dan efisien. Sebab banyak membuang waktu, zaman sekarang orang sangatlah sibuk. Payah mencari waktu luang pada masa sekarang, jadi segala adat-resam tersebut mesti di tukar.
http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/69950/ranah-minang-ditengah-cengkeraman-kristenisasi.htmlhttp://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/69950/ranah-minang-ditengah-cengkeraman-kristenisasi.html
Lalu orang kampung marah, mengusir Sumando Kacang Miang tersebut dari kampung mereka. Kamanakan merekapun dituntut untuk menceraikan suaminya atau pergi menghilang dari kampung. Tak boleh balik lagi ke kampung, sebab hati orang sekampung sangatlah tersinggung dengan perkataan dan sikap Congkak-Sombong dari Sumando yang katanya INtTELEK tersebut. Kata orang "Tamatan Universitas Negeri Ternama di Pulau Jawa.."

Lalu kemudian si Sumando marah dan menuntut orang kampung karena telah melanggar hak-haknya sebagai warga negara. Sebagai warga negara dia berhak berada dimana saja di wilayah hukum NKRI ini. Ini ialah hak dan kebebasan ia sebagai warga negara. Dia juga menggunakan dalil-dalil agama "Inikan bumi Allah, sebagai seorang muslim saya berhak berada dimana saja di bumi Allah ini..!!"

Karena orang kampung ini lemah, tak kenal dengan pejabat dan "urang bagak" maka terpaksa dibiarkan saja Sumando Kacang Miang ini Marajolelo di dalam kampung. Coba katakan kepada kami duhai engku dan encik sekalian, beginikah yang engku dan encik kehendaki nantinya menimpa Alam Minangkabau ini.

Kita mesti hormat dan toleran kepada orang lain, namun orang lain tak mesti hormat dan toleran kepada kita. Maju Kena-Mundur Kena. Bercakap salah-diampun salah. Dipukul salah-balik memukulpun salah. Kita bercakap tak didengarkan-orang bercakap kita mesti dengar.

Katakan engku dan encik sekalian, hukum siapakah itu? Hukum darimanakah itu? Pantaskah orang yang menganut pendirian serupa ini kita sambut sebagai dunsanak, dihargai sebagai kawan, atau dimuliakan sebagai tamu. Intelektual atau BINGAkah Urang Awak itu namanya.

Metode lain yang mereka gunakan ialah melalui jalan perkawinan dan pacaran. Metode ini hampir merata dipakai oleh para Kristen Radikal ini. berpura-pura masuk Islam, kemudian selepas punya anak kembali ke Kristen. Kalau pasangan tak hendak maka anak-anak akan diambil. Atau menghamili perempuan Minang, kalau hendak dipertanggung-jawabkan maka harus mengikuti agama Lelaki jahanam itu.

Kemudian ada pula dengan cara meracuni fikiran orang Minangkabau dengan Mazhab SEPILIS[4]. Dimana kebebasan individu dijunjung tinggi, agama ialah urusan pribadi dan tak boleh dicampuri oleh orang lain. Agama juga tak boleh dicampur-baurkan dengan urusan duniawi seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Harus saling menghargai perbedaan, apapun pilihan yang diambil seseorang ialah hak asali yang ada padanya. Dan terakhir, perubahan ialah sesuatu yang pasti untuk mencapai kemajuan. Barang siapa yang tak hendak menerima perubahan maka ia akan tersuruk dalam ke bodohan.

Wednesday, July 10, 2013

Pandangan Masyarakat Awam


Ilustrasi Gambar: Internet
Beberapa masa yang lalu tatkala kami sedang memeriksa Dinding Fesbuk kami, maka tanpa sengaja terbaca oleh kami sebuah pernyataan (status) yang dibuat oleh seorang Dara nan Cantik Jelita. Begini kira-kira pernyataannya tersebut: dalam jilbab orang (perempuan) masa sekarang, tidak pula menjadi sebuah jaminan.

Maksud dari encik yang membuat pernyataan ialah bahwa Jilbab Dalam serupa yang dipakai oleh para akhwat tidak menjadi jaminan ketinggian akhlak pemakainya. Pernyataan yang demikian mendapat jawapan dari salah seorang engku, begini kira-kira jawapannya:

Jika encik berjilbab dan ada orang yang mempermasalahkan akhlak encik, maka encik katakanlah kepada mereka bahwa antara jilbab dan akhlak ialah dua perkara yang berbeda. Berjilbab ialah perintah dari Allah Ta’ala, wajib hukumnya bagi perempuan Islam yang telah baligh tanpa memandang akhlaknya seperti apa. Baikkah akhlaknya atau berakhlak burukkah ia.

Sedangkan akhlak, watak, tabi’at, dan tingkah-laku ialah bergantung kepada diri masing-masing. Sebab masing-masing manusia itu berbeda didikan dan kendali dalam dirinya. Apabila seorang perempuan berjilbab melakukan suatu perbuatan tercela atau bahkan sampai menjurus kepada perbuatan dosa. Maka itu bukanlah karena jilbabnya melainkan karena dirinya (pribadinya). Dirinya belum tahu yang halal dan haram, ataupun sudah tahu namun telah berbuat khilaf. 

Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, namun yang berakhlak mulia sudah pastilah berjilab.