Showing posts with label Syari'at. Show all posts
Showing posts with label Syari'at. Show all posts

Thursday, July 11, 2013

Nyanyian dalam Islam



Para Pemain Musik di Masa Keemasan Peradaban Islam
Ilustrasi Gambar: Internet
Baru-baru ini salah seorang kawan bertanya, “bagaimana gerangan pandangan nyanyian terutama nyanyian Islami dalam agama kita. Bukankah hal tersebut sama namanya dengan menyerupai orang-orang kafir?”

 Lebih lanjut dia bercerita kalau semasa kuliah dulu pernah dia bertanya kepada salah seorang kawannya yang Kristiani, “apa gerangan isi nyanyian di gereja?” Si kawan menjelaskan “yang kami nyanyikan ialah puji-pujian kepada Tuhan”.

Beralaskan jawaban dari kawannya tersebut, maka kawan ku yang satu ini beranggapan nyanyian Islami dianggap menyerupai umat Kristiani dalam beribadah. Berdasarkan jawaban dari kawannya tersebut maka dia sendiri yakin nyanyian dalam Islam merusak akidah, dia sendiri lebih menyukai musik-musik non Islami semacam pop, jazz, ataupun musik klasik.

Mungkin banyak diantara kita yang berpandangan demikian, alangkah baiknya jika kita menengok sejenak Sejarah Perkembangan Peradaban Islam. Hampir setiap suku bangsa di dunia (termasuk kita di Ranah Melayu ini) memiliki tradisi sastra tertulis maupun lisan, sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada masa dahulu untuk mengubah sebuah sya’ir sebagai bentuk penghargaan tertinggi apakah itu kepada Tuhan, manusia yang dikagumi (seperti penguasa atau tokoh masyarakat), kekasih ataupun orang-orang yang dicintai, alam dan lingkungan tempat tinggal. Terkadang pula di sebagian masyarakat, para ahli sastra terutama penyair menduduki posisi terhormat dikalangan masyarakatnya.

Wednesday, July 10, 2013

Pandangan Masyarakat Awam


Ilustrasi Gambar: Internet
Beberapa masa yang lalu tatkala kami sedang memeriksa Dinding Fesbuk kami, maka tanpa sengaja terbaca oleh kami sebuah pernyataan (status) yang dibuat oleh seorang Dara nan Cantik Jelita. Begini kira-kira pernyataannya tersebut: dalam jilbab orang (perempuan) masa sekarang, tidak pula menjadi sebuah jaminan.

Maksud dari encik yang membuat pernyataan ialah bahwa Jilbab Dalam serupa yang dipakai oleh para akhwat tidak menjadi jaminan ketinggian akhlak pemakainya. Pernyataan yang demikian mendapat jawapan dari salah seorang engku, begini kira-kira jawapannya:

Jika encik berjilbab dan ada orang yang mempermasalahkan akhlak encik, maka encik katakanlah kepada mereka bahwa antara jilbab dan akhlak ialah dua perkara yang berbeda. Berjilbab ialah perintah dari Allah Ta’ala, wajib hukumnya bagi perempuan Islam yang telah baligh tanpa memandang akhlaknya seperti apa. Baikkah akhlaknya atau berakhlak burukkah ia.

Sedangkan akhlak, watak, tabi’at, dan tingkah-laku ialah bergantung kepada diri masing-masing. Sebab masing-masing manusia itu berbeda didikan dan kendali dalam dirinya. Apabila seorang perempuan berjilbab melakukan suatu perbuatan tercela atau bahkan sampai menjurus kepada perbuatan dosa. Maka itu bukanlah karena jilbabnya melainkan karena dirinya (pribadinya). Dirinya belum tahu yang halal dan haram, ataupun sudah tahu namun telah berbuat khilaf. 

Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, namun yang berakhlak mulia sudah pastilah berjilab.

Sunday, February 10, 2013

Tongkat Membawa Rebah

From West Sumatera to
Miss Indonesia
Foto: Internet
Entahkan senang atau sedih hati ini tatkala mendapat kabar perihal terpilihnya salah seorang “Gadis Minang” menjadi “Perempuan Tercantik” di Republik ini. Kita semuanya tentu telah faham kemana semuanya ini akan bermuara. Ya tuan.. ianya “Miss Universe” atau “Perempuan Tercantik Sedunia”. Dan kami yakin bahwa kita semua tentulah telah faham apa yang harus dilakukan seorang perempuan untuk mendapat pengakuan sebagai “Perempuan Tercantik Sedunia”.

Ya.. tuan, harus bersedia “Bertelanjang” dihadapan orang lain. Memperlihatkan aurat.. na’uzubillah.

Banyak tanggapan yang berdatangan dari orang Minangkabau perihal perkara ini. Salah satunya ialah orang tua kita, Inyiak Muchtar Naim, seorang budayawan, akademisi, dan orang tua yang dalam pandangan kami ialah seorang bijak. Beliau telah menulis sebuah surat yang disampaikan melalui milisnya orang Minang yakni RantauNet. Banyak yang mendukung dan menyokong pendapat beliau ini.

Semoga saja, orang kampung kita yang tengah menjadi “Perempuan Paling Cantik di Republik” ini membacanya. Semoga saja Allah membukakan hatinya kepada kebenaran. Semoga saja Hidayah Allah ta’ala disampaikan jua kepadanya hendaknya.

Saturday, January 5, 2013

Konspirasi Melawan Syari'at


Duduk menyamping seperti ini memang tidak boleh,
karena perempuan yang dibonceng memakain pakaian
yang tak pantas. Betis dan pahanya terlihat dengan jelas.
Terang-terangan mengundang birahi laki-laki normal.
Sumber Ilustrasi: Internet


Beberapa hari ini sebagian media sempat menyoroti perihal keputusan Pemerintah Kabupaten Lhokseumawe di Aceh yang mengeluarkan keputusan melarang perempuan duduk mengangkang di atas motor di jok penumpang. Keputusan ini diambil karena melihat keadaan yang telah dinilai sangat mengkhawatirkan dimana banyak anak muda perempuan yang duduk mengangkang di atas motor dengan celana yang sempit, serta dengan posisi yang mengapit kawan di muka.
Keputusan ini mendapat sorotan di Jakarta terutama oleh beberapa lembaga, apakah itu lembaga pemerintah ataupun swasta, lembaga penelitian ataupun  LSM, serta terutama sekali ialah Media yang Telah Dikuasai oleh Kaum Liberal. Kebanyakan dari mereka menilai kebijakan ini sebagai suatu kebijakan “yang bodoh”. 
Kenapa demikian?
Karena menurut penelitian yang mereka (orang-orang Jakarta yang menentang) lakukan dengan menggunakan segenap metode dan teknik yang telah mereka pelajari pada disiplin ilmu yang mereka kuasai. Di dapatlah hasil bahwa keputusan dari Pemkab Lhokseumawe merupakan keputusan yang keliru dan pandir. 
Kenapa demikian?
Menurut orang-orang hebhat ini duduk mengangkang jauh lebih aman bagi penumpang sepeda motor jika dibandingkan dengan duduk menyamping. Hal ini karena pengemudi lebih mudah menjaga keseimbangan, penumpang tidak cepat lelah,  keselamatan lebih terjaga, dan lain sebagainya.  Begitulah pendapat mereka, pendapat mereka serupa itu beredar dengan luas di berbagai media di republik ini, baik cetak maupun yang elektronik.
Namun benarkah demikian?
Maaf sebelumnya kami ucapkan, telah lama berlaku di masyarakat kami, terutama di masyarakat yang Hukum Adat dan Hukum Agamanya telah berpadu dengan Syari’at Islam. Telah berlaku semenjak dahulu di negeri kami ini bahwa ada norma atau aturan tak tertulis yang selalu dipatuhi bahwa jika seorang perempuan dibonceng di atas motor, maka dia harus duduk menyamping. Tidak peduli apakah dia dibonceng oleh lelaki atau perempuan, namun dia wajib duduk menyamping.
Perempuan-perempuan yang duduk mengangkang biasanya kalau tidak anak-anak yang masih kecil dan belum pandai menjaga keseimbangan atau mereka ialah para perempuan yang tidak jelas asal usulnya, tidak baik akhlaknya, dan tidak benar kehidupan yang dijalaninya . Begitulah yang tersurat dalam Norma Adat kami.