Apa ada perbedaan hari sekarang dengan hari yang kemarin atau kemarinnya lagi?
Perbedaan yang mendasar maksudnya, segala peristiwa yang kita lalui dan alami tentunya berbeda dengan hari-hari yang lalu.
Maaf kalau kami terlalu panjang membahas masalah ini. Namun baiknya kita simak salah satu kisah rekaan dari salah satu blog yang barusan saya baca.
Silahkan di simak:
Pagi ini kami mendapat telpon dari seorang kawan. Suaranya meninggi dan ada keluhan padanya ” Ada apa engku..?” tanya kami.
“Ah.. ampuuun.. pasai* saya dibuatnya engku. Semua orang membicarakannya, dimana-mana, hingga ke sudut-sudut rumah. Saya hendak mempercepat keberangkatan engku, saya kira kalau pulang dapat menenangkan hati. Tapi, di kampung orang belagak sok ke kota-kotaan. Sungguh memalukan para inlander** ini..” Keluhnya dari seberang sana.
Kami hanya terdiam, memang benar. Beginilah nasib yang harus ditanggung kalau kita sudah melepaskan keawaman kita. Cara kita memandang, cara kita memaknai, cara kita memahami, cara kita menafsirkan segala sesuatu (fenomena) yang terjadi tentunya berbeda dengan kebanyakan orang-orang (Orang Awam). Orang banyak (awam) hanya memandang, lahir dan membaca yang tersurat, tergesa-gesa dalam memutuskan segala sesuatu tanpa didasari oleh usul-periksa terlebih dahulu. Sedangkan orang-orang yang telah arif dalam memandang setiap kejadian (fenomena) juga memandang yang bathin, mencari yang tersirat, serta menelaah, menyidiki, dan memeriksa betul-betul setiap kejadian (fenomena) dan keterangan (informasi) yang terdapat di dalamnya.
Gambar Ilustrasi: Internet
Kamipun berusaha menenangkannya “Cobalah untuk bersabar engku, memang makan hati kita dibuatnya. Banyak orang-orang pandir di sekitar kita. Ikut-ikutan kata orang, mengangguk-angguk kepada pendapat orang, serta mengamini pendapat orang banyak. Mata mereka masih tertutup dan ada tabir pada hati mereka, kita seharusnya kasihan engku. Walau terkadang menengok sikap dan perilaku mereka membuat kita gemas..” ujar kami padanya.
Dia terdiam sejenak, mengatur nafas dan kembali meluahkan isi hatinya “Benar kawan ku yang baik, tapi inlander-inlander di Pusat sana setiap hari kerjanya memperbodoh rakyat kita. Melihat gaya mereka saya sudah muak saya engku, orang kampung kita yang pandir-pandir ini mengamini segala yang datang dari pusat. Cobalah engku tengok, manakah ada anak gadis Minang sekarang yang memakai baju kurung ketika keluar rumah. Semuanya telah berubah menajadi Lonte. Keluar malam merupakan sesuatu yang biasa di kampung kita pada masa sekarang. Tidak hanya bagi anak bujang akan tetapi juga bagi anak gadis. Apa yang menjadi trend di Pusat, di sinipun begitu. Orang merayakan “The New Dummy Day” orang kampung kita yang pandir-pandir inipun ikut merayakannya. Mereka hanyut dalam kepandiran, sedangkan kita terkucilkan di dunia yang tengah sekarat ini..“