Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Sunday, September 11, 2016

Pemurtadan di Minangkabau (Bag.10)

Yanwardi sedang memberi Khotbah dengan Pakaian Penghulu.
Yanwardi sedang memberi Khotbah dengan Pakaian Penghulu.
Beragam pendapat dari orang Minangkabau sendiri perihal berbagai kasus murtadnya orang Minangkabau. Dimana setelah murtadnya, dia dan kawan-kawan menggunakan simbol-simbol budaya Minangkabau dalam berbagai ritual agama atau hal-hal yang berkaitan dengan agama baru mereka.
Salah satu pendapat berpandangan bahwa  sebaiknya orang Minangkabau segera menjelaskan dan menetapkan hitam di atas putih mengenai berbagai simbol-simbol budaya Minangkabau yang telah disalah gunakan. Hal ini untuk memperkuat posisi kita orang Minangkabau di hadapan hukum apabila hal ini masih terjadi.
Selama belum jelas hitam-di atas putih maka para murtadin ini akan semakin leluasa dan semena-mena atas berbagai simbol budaya Minangkabau. Dalih mereka salah satunya ialah “Apakah orang yang disebut sebagai Orang Minangkabau itu hanya yang beragama Islam saja? Sebab saya berasal dari keturunan Minangkabau tulen, kakek dan nenek saya dari fihak ayah atau ibu serta apabila dirujuk terus ke atas ialah keturunan Minangkabau tulen. Begitu pula saya, 100 & Minangkabau..”

Tuesday, July 9, 2013

Nagari bagi Minangkabau

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet
Minangkabau dikenal dikarenakan keunikan adat dan budayanya. Sistim matrilineal telah begitu melekat dan menjadi identitas yang menyatu bagi masyarakat Minangkabau. Minangkabau juga dikenal karena beberapa orang founding father[1] Negara Indonesia berasal dari daerah ini. Selain itu makanan khas rendang merupakan jenis masakan asli daerah Minangkabau. Masakan ini telah menjadi menu masakan nusantara, bahkan berdasarkan penelitian sebuah lembaga research kelas dunia, masakan rendang merupakan salah satu jenis masakan favorit di dunia.
Namaun apakah gerangan yang menjadi fondasi dasar bagi daerah ini untuk tetap berdiri, dalam menunjukkan kekhasan dirinya? Ditengah kencangnya arus modernitas, dan dibawah ideologi penyeragaman yang dilakukan oleh pusat terhadap daerah yang dipropagandakan secara halus melalui media massa. Akan sangat sulitlah bagi daerah-daerah untuk tetap berdiri sesuai dengan jati dirinya. ”Semuanya harus disesuaikan dengan kemajuan zaman, kita tidak boleh menolak perubahan karena perubahan merupakan sesuatu yang pasti. Belum ada yang berhasil menentang perubahan” begitulah kira-kira tanggapan dari sebagain Minangkabau saat ini.
Sesungguhnya yang menjadi landasan utama bagi Minangkabau untuk tetap berdiri ialah Agama (Islam) dan Adat. Kedua hal inilah yang menjadi pilar utama yang menopang kehidupan masyarakat Minangkabau. Tanpa keduanya, atau hanya salah satu saja maka Kebudayaan Minangkabau akan runtuh. Pada masa sekarang ini, kedua pilar penting inilah yang digugat, digugat oleh anak kandungnya sendiri. “Tidak sesuai dengan perkembangan zaman” Kata Tuan-tuan para intelektual.
Marilah kita perbincangkan disini perkara adat. Selain Adat Matrilineal yang menjadi fondasi utama dalam kelangsungan kehidupan masyarakat Minangkabau, terdapat satu institusi yang mewadahi kepentingan masyarakat Minangkabau. Namanya ialah “NAGARI”, maknanya ialah daerah, kawasan, ataupun negeri. Yang dimaksud dengan Nagari ialah suatu kawasan yang ditinggali oleh suatu masyarakat yang memiliki nenek moyang yang sama, sejarah kedatangan yang sama, dan ragam corak adat yang sama. Diperintahi oleh beberapa penghulu yang duduk di Balairung atau Balai Adat. Dalam menjalani pemerintahan di Nagari setiap penghulu melakukannya dengan cara musyawarah-mufakat.[2]
Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet
Nagari juga harus terdiri atas beberapa suku, paling sedikit ialah empat, kemudian harus memiliki masjid jamiak tempat menyelenggarakan shalat dan ibadah lainnya. Harus ada juga balai tempat para penghulu berunding dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada dalam nagari. Labuah atau jalanpun harus pula ada, karena ini merupakan sarana penghubung silaturahim antara anak nagari. Syarat terakhir ialah tapian, yang dimaksud dengan tapian ialah tempat mandi. Orang dahulu tidak memiliki kamar mandi di rumahnya, dan tidak pula semua rumah memiliki sumur. Maka bagi yang tidak cukup keadaan rumahnya serupa itu, maka mereka biasanya akan pergi ke batang aia (sungai) untuk mandi, mencuci, dan keperluan lainnya. Kalaupun sungai jauh, maka mereka akan mencari kolam atau tabek yang jernih serta bersih airnya, atau menumpang ke sumur-sumur milik orang kampung yang terkenal banyak airnya.
Wilayah yang mereka perintahi merupakan wilayah merdeka yang hanya mengakui kedaulatan Rajo Alam di Pagaruyuang.  Raja sendiri tidak memiliki hak untuk mencampuri kehidupan nagari, hanya saja dirinya akan turun tangan apabila terdapat perkara yang tidak didapat penyelesaiannya oleh para penghulu di nagari tersebut.

Sunday, February 10, 2013

Tongkat Membawa Rebah

From West Sumatera to
Miss Indonesia
Foto: Internet
Entahkan senang atau sedih hati ini tatkala mendapat kabar perihal terpilihnya salah seorang “Gadis Minang” menjadi “Perempuan Tercantik” di Republik ini. Kita semuanya tentu telah faham kemana semuanya ini akan bermuara. Ya tuan.. ianya “Miss Universe” atau “Perempuan Tercantik Sedunia”. Dan kami yakin bahwa kita semua tentulah telah faham apa yang harus dilakukan seorang perempuan untuk mendapat pengakuan sebagai “Perempuan Tercantik Sedunia”.

Ya.. tuan, harus bersedia “Bertelanjang” dihadapan orang lain. Memperlihatkan aurat.. na’uzubillah.

Banyak tanggapan yang berdatangan dari orang Minangkabau perihal perkara ini. Salah satunya ialah orang tua kita, Inyiak Muchtar Naim, seorang budayawan, akademisi, dan orang tua yang dalam pandangan kami ialah seorang bijak. Beliau telah menulis sebuah surat yang disampaikan melalui milisnya orang Minang yakni RantauNet. Banyak yang mendukung dan menyokong pendapat beliau ini.

Semoga saja, orang kampung kita yang tengah menjadi “Perempuan Paling Cantik di Republik” ini membacanya. Semoga saja Allah membukakan hatinya kepada kebenaran. Semoga saja Hidayah Allah ta’ala disampaikan jua kepadanya hendaknya.

Saturday, December 29, 2012

Hidup Menenggang Rasa



Adalah suatu kelaziman yang kita dapati pada kehidupan orang pada masa sekarang. Rasa malu dan tenggang manenggang sudah tak ada. Kebanyakan orang sekarang lebih suka memikirkan diri mereka sendiri, tak pernah memperdulikan perasaan orang lain. Tidak di sini di tempat penulis mencari hidup, tidak juga di kampung asal kami, sama saja keadaannya. Sering terucap dilisan orang-orang: awak se nan manenggang urang, urang lain ndak ado nan manenggang awak do.*


Begitulah keadaan sebenarnya, memanglah masih terdapat beberapa orang Minang yang berjalan dikearifan orang tua dahulu,  hidup layaknya orang Minangkabau Lama, berusaha mementingkan raso jo pareso. Jika terdapat orang yang demikian maka mereka akan dicemooh. Orang-orang yang mencemooh tersebut beralasan selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan agama tak ada perlunya kita takut. Benarkah tidak ada pertentangan dengan nilai agama kita? Agama Islam?

Sesungguhnya hal tersebut hanya keluar dari mulut orang-orang yang rendah pengetahuan agamanya, dangkal pemahamannya terhadap adat, dan kehidupan ini. benarkah agama kita sama sekali tidak mementingkan nilai-nilai semacam itu? nilai raso jo pareso?

Sejauh pengetahuan penulis, Islam sangat menjunjung tinggi sikap saling menghargai dan menghormati orang lain. Ajaran agama Islam sesungguhnya ajaran yang lebut dan perasa, hanya orang-orang yang berfikir sajalah yang dapat memahami hal tersebut.

Sebagai contoh ialah, Islam mengajarkan umatnya untuk berzakat, kenapa? karena dengan berzakat kita dapat mengurangi beban orang lain, membantu mereka dalam mencukupi kebutuhan hidup yang terkadang kurang untuk diri dan keluarga mereka. Makna terselubunng dari perintah zakat itu ialah dengan memberi akan dapat melunakkahn hati dan melembutkan jiwa kita.