 |
Fikiran merupakan unsur yang paling dominan dalam diri seseorang. Jika fikirannya telah dikuasai, maka seluruh kehidupannya telah dihambakannya kepada yang menguasai.Ilustrasi Gambar: Internet |
Dewasa ini “orang-orang hebat” di Jakarta sering
menyebut-nyebut perihal
pluralisme dan multikulturalisme. Semua ini biasanya
berujung pada
kebebasan beragama. Isu ini muncul melihat gejolak ketidak
nyamanan di kalangan anak bangsa yang cenderung/mudah terjerumus pada konflik
yang berlatar belakang ras ataupun agama. Kita sendiri tidak pernah tahu
bagaimana persisnya konflik seperti ini bermula di masa moderen ini, hanya saja kita sudah
mendengar kabarnya dari media. Sungguh aneh dan menyedihkan karena
seiring dengan munculnya konflik antar agama, maka muncul pula isu pluralisme,
liberalisme, sekularisme, dan multikulturalisme. Mungkin ada yang beranggapan bahwa munculnya ide-ide ini karena dilatari oleh
budaya konflik yang ada di Indonesia saat ini.
Salah seorang aktivis
Kontras ketika dimintai pendapatnya oleh
media menyikapi kasus pengusiran jemaat gereja di Bogor bulan yang lalu, mengungkapkan bahwa ada kepentingan politik yang terlibat di dalam konflik
ini. Hal inilah rupanya selama ini terasa namun begitu
sukar untuk diungkapkan. Ya.. kepentingan politik, karena seperti yang kita
ketahui, gerakan politik di Indonesia saat ini mengarah pada satu titik, yakni
berusaha merubah ideologi negara ini yang semula berazazkan agama (Sila Pertama) menjadi berazas pada sekularisme. Dengan
menjadikan Islam sebagai sasaran tembak. Namun mereka selalu berusaha menutupi
gerak-gerik mereka dengan mengemukakan alasan gombal yakni “Pancasila” yang
selama ini menjadi dasar negara. Lupa mereka tampaknya pada sila pertama.
 |
Ingat filem Inception yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio? Sungguh filem ini mengungkapkan segalanya. Gambar Ilustrasi: Internet |
Namun karena kecerdikan mereka, keluasan jaringan mereka, maka ideologi ini secara perlahan-lahan namun pasti, telah lama dipropagandakan. Tanpa ada yang berdaya untuk melawan, menghadang, atau melarang. Karena mereka bermain sangat halus sekali, senjata utama mereka ialah kebebasan. Kebebasan yang pada saat sekarang ini sudah terlalu bebas tak terkendali.